KECENDERUNGAN
PEMAKAIAN CELANA PANJANG (SKINNY JEANS) DARI PADA ROK DI KALANGAN MAHASISWA
FAKULTAS DAKWAH IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA
A. Latar Belakang
Penampilan
adalah segalanya, bagi sebagian orang hal ini bisa menjadi sebuah hal mutlak
yang harus dilakukan. Apalagi bagi remaja, daya tarik fisik dan penampilan luar
menentukan seberapa “gaul-nya” seseorang. Yang pada akhirnya pengharapan atas
popularitas, pemilihan teman dan dukungan sosial. Penampilan luar dan fisik
seseorang sering kali disebut sebagai gaya. Gaya merupakan bentuk ekpresi dasar
manusia atas jati diri. Gaya mencerminkan pemikiran dan idealisme pemakainya.
Demikian hal itu tidak terjadi mutlak pada saat ini. Pemikiran atas gaya kian
hari bergeser karena pergerakan kaum “poser” (peniru red). Timbulnya kaum poser
tidak lepas dari pengaruh proses imitasi pada remaja. Dalam hal ini pengaruh
teman sebaya sangat kuat terutama dalam masalah trend pakaian.
Setiap orang
pasti pernah merasa tidak puas dengan penampilan luarnya sehingga mencari cara
untuk bisa “merasa” tampil lebih baik. Jika kita lihat gaya remaja kebanyakan
saat ini, kita akan disuguhkan tampilan celana super kecil ketat yang biasa
disebut celana pensil atau skinny jeans. Skinny pants mulai populer di era
50an. Saat itu, yang celana ini kebanyakan dipakai oleh perempuan seperti
Marilyn Monroe dan Audrey Hepburn. Ketika muncul pergerakan punk di akhir tahun
70an, skinny jeans kembali populer. Namun dengan sedikit modifikasi seperti
celana “ngepas” dari pinggang sampai mata kaki yang dipakai oleh The Clash,
Ramones, dan The Sex Pistols dipadukan dengan zipper, emblem, atau aksesoris
lain seperti sepatu boots Dr Martens. Tapi yang lebih terkenal sebagai pemakai
celana skinny adalah pada masa skinhead dan punk berjaya. Pada akhir 1970 saat
flower generation yang bergaya gipsi sedang menjadi trend, para anak-anak
skinhead dan punk merasa harus melakukan perlawanan dengan fashion yang
berbeda, ya dengan celana skinny itu. Sungguh suatu hal yang kontras dengan
celana cutbray ala flower generation yang sangat lebar bagian bawahnya.
Anak-anak punk juga melakukan perlawanan terhadap kemapanan dengan menambahi
aksesori seperti peniti atau emblem-emblem. Pada zaman itu, hal seperti itu
masih tidak lazim. Dan anak punk sukses melakukan perubahan sekaligus melakukan
perlawanan terhadap kemapanan Skinny jeans dipakai sebentuk protes kaum muda
terhadap segala bentuk sikap otoriter pemerintah dunia saat itu, seperti perang
Vietnam, rasisme, apherteid, dan bentuk gerakan anti fashion.
Mereka berusaha
menyindir para pemimpin dunia yang berpakaian necis dan parlemnte namun
sikapnya tak lebih dari para penguasa haus darah dan egois. Sekaligus bentuk
anti fashion terhadap apa yang disajikan trend fashion saat itu. Entah penyakit
apa yang mulai merambat pada mahasiswa Unej kebanyakan saat ini. Keseragaman
gaya skinny jeans bak jamur di musim hujan, muncul dimana-mana. Padahal jika
kita perhatikan seksama, anatomi skinny jeans yang super ketat nampak sangat
menyiksa. Selain itu proses pemakaianya yang susah dan kadang menyakitkan,
seperti bukan masalah bagi pemakainya. “no pain no gain” mungkin itu yang
menjadi dasar seseorang dalam memakai celana menyiksa ini, meski sakit dan
menyiksa yang penting gaya
kemana-mana. (worthless I think) Kecenderungan remaja saat ini (mahasiswa
khususnya) dalam memakai skinny jeans, tidak lepas dari peran masyarakat dan
media. Memang membawa pengaruh yang besar dalam mendorong seseorang untuk
begitu peduli pada penampilan luar. Sungguh ironis, kampus tidak lagi menjadi sarana
pendidikan dan pengajaran. Namun lebih menjadi sebuah catwalk.
Hampir sebagian
besar universitas di Indonesia memiliki jumlah populasi pemakai skinny jeans
yang tidak sedikit. Yang lebih idiot lagi, celana ketat itu dipadu dengan
boxer.Boxer yang notabene digunakan sebagai celana dalam malah sengaja
diperlihatkan. Dengan jalan me-melorot-kan skinny jeans-nya, yang entah apa
tujuannya. Yang lucu sekaligus goblok, hampir semua pemakai celana skinny ini
memakai sabuk. Apa mereka tidak tahu fungsi sabuk? Fungsinya ya sudah jelas,
menahan celana agar tidak melorot, lha ini sudah memakai sabuk tapi sengaja
dipelorotin. Gimana sih? Selain pemakaian celana yang bodoh itu, sebagian dari
pemakai celana skinny itu secara tak sadar telah melakukan komodifikasi (perubahan
bentuk simbol perlawanan menjadi komoditi), yang bisa dianggap sebagai pembunuh
idealisme. Namun tidak semua pemakai skinny jeans hanya ikut-ikutan dan sekedar
mengikuti trend yang sedang in. ada beberapa mahasiswa yang memang tahu dan
menganggap skinny jeans sebagai bentuk media perlawanan terhadap kemapanan.
Biasanya mereka yang tahu tentang idiologi skinny jeans, berusaha untuk tidak
membeli skinny jeans tersebut di toko atau di distro yang berjubel si sekitar
kampus. Namun mereka berusaha mencari di “babebo” atau pasar pakaian bekas.
Bukan merek yang mereka kejar namun identitas dan pemahaman atas suatu
identitas perlawanan, yang diwujudkan melalui pakaian. Sungguh sangat
menyedihkan/disayangkan kalau para pemakai celana skinny hanya “ikutan” mode yang
sedang “ngetrend”. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka pakai adalah salah satu
hasil dari pemikiran brilian dan berani melawan arus. Dan saat mereka tidak
mengetahui arti dari sebuah ideologi, tapi mereka tetap dengan gagah berani
memakai produk dari suatu ideologi, bukankah kita pantas menjuluki mereka
sebagai pembunuh ideologi?!
Fenomena
tersebut tidak hanya terjadi diluaran sana, akan tetapi di fakultas dakwah pun
tak jauh berbeda. Justru ada sebagian mahasiswi yang menganggap bahwa pemakaian
rok sekarang sudah kuno dan tertinggal jauh dan lagi ribet kalau jalannya
sedang tergesa-gesa. Pemakaian skinny jeans terlihat lebih modern dan trendy
menurut sebagian dari mereka. Bahkan modelnya pun beragam dipasaran, dari mulai
remaja, dewasa, tua, sampai anak-anak pun juga ada. Hal ini sudah berlangsung
cukup lama dan sudah tidak bisa dihindari, malahan kedepannya nanti pasti akan
semakin beragam macamnya. Jika dulunya mahasiswi di UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
dianjurkan memakai rok atau long dress mereka masih mau-mau saja, akan tetapi
sekarang yang terjadi sebaliknya dosen sudah berkali-kali mengingatkan namun
mahasiswi tetap saja membandel. Untuk dosen yang benar-benar disiplin, beliau
akan menegurnya dan kalau minggu depan masih dipakai maka mahasiswinya dianggap
tidak pantas mengikuti kelasnya dan harus keluar saat itu juga. Tapi namanya
juga mahasiswa sekarang penuh dengan beda pendapat yang terjadi ya dia akan
memakai skiny jeans lagi.
B. Permasalahan
1.
Apakah makna dari fenomena pemakaian celana(skinny jeans)
di kalangan mahasiswi fakultas dakwah dan Ilmu Komunikasi?
2.
Sejak kapan pemakaian skinny jeans berlangsung di
fakultas dakwah dan ilmu komunikasi?
3.
Dimana saja tempat-tempat yang sering dikunjungi
mahasiswi pemakai skinny jeans?
4.
Siapa mahasiswi
pelaku pemakai skinny jeans?
5.
Mengapa mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi lebih
tertarik memakai skinny jeans dari pada rok?
6.
Bagaimana tanggapan mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu
komunikasi terhadap pemakaian celana(skinny jeans) yang sedang booming saat
ini?
FOKUS PERMASALAHAN
Mengapa mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi lebih tertarik
memakai skinny jeans dari pad rok.
C. Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengetahui seberapa penting penggunaan celana
panjang (skinny jeans) bagi mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi
2.
Mencari tahu makna dari pemakaian celana panjang(skinny
jeans) bagi mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi
3.
Menemukan dampak positif/negatif dari pemakaian skinny
jeans
D. Manfaat Penelitian
1.
Memberikan informasi mengenai makna dari pemakaian
skinny jeans bagi mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi
2.
Menambah wawasan bagi peneliti mengenai skinny jeans
E. Pedoman wawancara
1.
apakah makna dari pemakaian skinny jeans dikalanagn
mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi?
2.
Sejak kapan pemakaian skinnya jeans berangsung di
fakultas dakwah dan ilmu komunikasi?
3.
Dimana saja tempat-tempat yang sering dikunjungi
mahasiswi pemakai skinny jeans?
4.
Siapa mahasiswi pelaku
pemakai skinny jeans?
5.
Mengapa mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi lebih
tertarik memakai skinny jeans dari pada rok?
6.
Bagaimana tanggapan mahasiswi fakultas dakwah terhadap
pemakaian skinny jeans yang sedang buming saat ini?
7.
Apa tujuan dari mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu
komunikasi menggunakan skinny jeans?
8.
Apakah mahasiswi komunikasi dan penyiran islam yang
mendominasi pemakaian skinny jeans di fakultas dakwah dan ilmu komunikasi?
Kenapa?
9.
Apa penyebab jatuhnya pilihan pada skinny jeans
dibandingkan dengan celana jenis lain?
10. Seberapa
penting pemakaian skinny jeans dikalangan mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu
komunikasi?
11. Apa
saja dampak positif dan negatifnya?
12. Bagaimana
solusi yang tepat bagi para penggunanya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar