Selasa, 31 Desember 2013

metode penelitian kualitatif


KECENDERUNGAN PEMAKAIAN CELANA PANJANG (SKINNY JEANS) DARI PADA ROK DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS DAKWAH IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA



A. Latar Belakang
Penampilan adalah segalanya, bagi sebagian orang hal ini bisa menjadi sebuah hal mutlak yang harus dilakukan. Apalagi bagi remaja, daya tarik fisik dan penampilan luar menentukan seberapa “gaul-nya” seseorang. Yang pada akhirnya pengharapan atas popularitas, pemilihan teman dan dukungan sosial. Penampilan luar dan fisik seseorang sering kali disebut sebagai gaya. Gaya merupakan bentuk ekpresi dasar manusia atas jati diri. Gaya mencerminkan pemikiran dan idealisme pemakainya. Demikian hal itu tidak terjadi mutlak pada saat ini. Pemikiran atas gaya kian hari bergeser karena pergerakan kaum “poser” (peniru red). Timbulnya kaum poser tidak lepas dari pengaruh proses imitasi pada remaja. Dalam hal ini pengaruh teman sebaya sangat kuat terutama dalam masalah trend pakaian.
Setiap orang pasti pernah merasa tidak puas dengan penampilan luarnya sehingga mencari cara untuk bisa “merasa” tampil lebih baik. Jika kita lihat gaya remaja kebanyakan saat ini, kita akan disuguhkan tampilan celana super kecil ketat yang biasa disebut celana pensil atau skinny jeans. Skinny pants mulai populer di era 50an. Saat itu, yang celana ini kebanyakan dipakai oleh perempuan seperti Marilyn Monroe dan Audrey Hepburn. Ketika muncul pergerakan punk di akhir tahun 70an, skinny jeans kembali populer. Namun dengan sedikit modifikasi seperti celana “ngepas” dari pinggang sampai mata kaki yang dipakai oleh The Clash, Ramones, dan The Sex Pistols dipadukan dengan zipper, emblem, atau aksesoris lain seperti sepatu boots Dr Martens. Tapi yang lebih terkenal sebagai pemakai celana skinny adalah pada masa skinhead dan punk berjaya. Pada akhir 1970 saat flower generation yang bergaya gipsi sedang menjadi trend, para anak-anak skinhead dan punk merasa harus melakukan perlawanan dengan fashion yang berbeda, ya dengan celana skinny itu. Sungguh suatu hal yang kontras dengan celana cutbray ala flower generation yang sangat lebar bagian bawahnya. Anak-anak punk juga melakukan perlawanan terhadap kemapanan dengan menambahi aksesori seperti peniti atau emblem-emblem. Pada zaman itu, hal seperti itu masih tidak lazim. Dan anak punk sukses melakukan perubahan sekaligus melakukan perlawanan terhadap kemapanan Skinny jeans dipakai sebentuk protes kaum muda terhadap segala bentuk sikap otoriter pemerintah dunia saat itu, seperti perang Vietnam, rasisme, apherteid, dan bentuk gerakan anti fashion.
Mereka berusaha menyindir para pemimpin dunia yang berpakaian necis dan parlemnte namun sikapnya tak lebih dari para penguasa haus darah dan egois. Sekaligus bentuk anti fashion terhadap apa yang disajikan trend fashion saat itu. Entah penyakit apa yang mulai merambat pada mahasiswa Unej kebanyakan saat ini. Keseragaman gaya skinny jeans bak jamur di musim hujan, muncul dimana-mana. Padahal jika kita perhatikan seksama, anatomi skinny jeans yang super ketat nampak sangat menyiksa. Selain itu proses pemakaianya yang susah dan kadang menyakitkan, seperti bukan masalah bagi pemakainya. “no pain no gain” mungkin itu yang menjadi dasar seseorang dalam memakai celana menyiksa ini, meski sakit dan menyiksa yang penting gaya kemana-mana. (worthless I think) Kecenderungan remaja saat ini (mahasiswa khususnya) dalam memakai skinny jeans, tidak lepas dari peran masyarakat dan media. Memang membawa pengaruh yang besar dalam mendorong seseorang untuk begitu peduli pada penampilan luar. Sungguh ironis, kampus tidak lagi menjadi sarana pendidikan dan pengajaran. Namun lebih menjadi sebuah catwalk.
Hampir sebagian besar universitas di Indonesia memiliki jumlah populasi pemakai skinny jeans yang tidak sedikit. Yang lebih idiot lagi, celana ketat itu dipadu dengan boxer.Boxer yang notabene digunakan sebagai celana dalam malah sengaja diperlihatkan. Dengan jalan me-melorot-kan skinny jeans-nya, yang entah apa tujuannya. Yang lucu sekaligus goblok, hampir semua pemakai celana skinny ini memakai sabuk. Apa mereka tidak tahu fungsi sabuk? Fungsinya ya sudah jelas, menahan celana agar tidak melorot, lha ini sudah memakai sabuk tapi sengaja dipelorotin. Gimana sih? Selain pemakaian celana yang bodoh itu, sebagian dari pemakai celana skinny itu secara tak sadar telah melakukan komodifikasi (perubahan bentuk simbol perlawanan menjadi komoditi), yang bisa dianggap sebagai pembunuh idealisme. Namun tidak semua pemakai skinny jeans hanya ikut-ikutan dan sekedar mengikuti trend yang sedang in. ada beberapa mahasiswa yang memang tahu dan menganggap skinny jeans sebagai bentuk media perlawanan terhadap kemapanan. Biasanya mereka yang tahu tentang idiologi skinny jeans, berusaha untuk tidak membeli skinny jeans tersebut di toko atau di distro yang berjubel si sekitar kampus. Namun mereka berusaha mencari di “babebo” atau pasar pakaian bekas. Bukan merek yang mereka kejar namun identitas dan pemahaman atas suatu identitas perlawanan, yang diwujudkan melalui pakaian. Sungguh sangat menyedihkan/disayangkan kalau para pemakai celana skinny hanya “ikutan” mode yang sedang “ngetrend”. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka pakai adalah salah satu hasil dari pemikiran brilian dan berani melawan arus. Dan saat mereka tidak mengetahui arti dari sebuah ideologi, tapi mereka tetap dengan gagah berani memakai produk dari suatu ideologi, bukankah kita pantas menjuluki mereka sebagai pembunuh ideologi?!
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi diluaran sana, akan tetapi di fakultas dakwah pun tak jauh berbeda. Justru ada sebagian mahasiswi yang menganggap bahwa pemakaian rok sekarang sudah kuno dan tertinggal jauh dan lagi ribet kalau jalannya sedang tergesa-gesa. Pemakaian skinny jeans terlihat lebih modern dan trendy menurut sebagian dari mereka. Bahkan modelnya pun beragam dipasaran, dari mulai remaja, dewasa, tua, sampai anak-anak pun juga ada. Hal ini sudah berlangsung cukup lama dan sudah tidak bisa dihindari, malahan kedepannya nanti pasti akan semakin beragam macamnya. Jika dulunya mahasiswi di UIN SUNAN AMPEL SURABAYA dianjurkan memakai rok atau long dress mereka masih mau-mau saja, akan tetapi sekarang yang terjadi sebaliknya dosen sudah berkali-kali mengingatkan namun mahasiswi tetap saja membandel. Untuk dosen yang benar-benar disiplin, beliau akan menegurnya dan kalau minggu depan masih dipakai maka mahasiswinya dianggap tidak pantas mengikuti kelasnya dan harus keluar saat itu juga. Tapi namanya juga mahasiswa sekarang penuh dengan beda pendapat yang terjadi ya dia akan memakai skiny jeans lagi.  
B. Permasalahan
1.      Apakah makna dari fenomena pemakaian celana(skinny jeans) di kalangan mahasiswi fakultas dakwah dan Ilmu Komunikasi?
2.      Sejak kapan pemakaian skinny jeans berlangsung di fakultas dakwah dan ilmu komunikasi?
3.      Dimana saja tempat-tempat yang sering dikunjungi mahasiswi pemakai skinny jeans?
4.      Siapa  mahasiswi pelaku pemakai skinny jeans?
5.      Mengapa mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi lebih tertarik memakai skinny jeans dari pada rok?
6.      Bagaimana tanggapan mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi terhadap pemakaian celana(skinny jeans) yang sedang booming saat ini? 
FOKUS PERMASALAHAN
Mengapa mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi lebih tertarik memakai skinny jeans dari pad rok.
C. Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui seberapa penting penggunaan celana panjang (skinny jeans) bagi mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi
2.      Mencari tahu makna dari pemakaian celana panjang(skinny jeans) bagi mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi
3.      Menemukan dampak positif/negatif dari pemakaian skinny jeans
D. Manfaat Penelitian
1.      Memberikan informasi mengenai makna dari pemakaian skinny jeans bagi mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi
2.      Menambah wawasan bagi peneliti mengenai skinny jeans
E. Pedoman wawancara
1.      apakah makna dari pemakaian skinny jeans dikalanagn mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi?
2.      Sejak kapan pemakaian skinnya jeans berangsung di fakultas dakwah dan ilmu komunikasi?
3.      Dimana saja tempat-tempat yang sering dikunjungi mahasiswi pemakai skinny jeans?
4.      Siapa mahasiswi pelaku  pemakai skinny jeans?
5.      Mengapa mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi lebih tertarik memakai skinny jeans dari pada rok?
6.      Bagaimana tanggapan mahasiswi fakultas dakwah terhadap pemakaian skinny jeans yang sedang buming saat ini?
7.      Apa tujuan dari mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi menggunakan skinny jeans?
8.      Apakah mahasiswi komunikasi dan penyiran islam yang mendominasi pemakaian skinny jeans di fakultas dakwah dan ilmu komunikasi? Kenapa?
9.      Apa penyebab jatuhnya pilihan pada skinny jeans dibandingkan dengan celana jenis lain?
10.  Seberapa penting pemakaian skinny jeans dikalangan mahasiswi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi?
11.  Apa saja dampak positif dan negatifnya?
12.  Bagaimana solusi yang tepat bagi para penggunanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar