Selasa, 31 Desember 2013

logika

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kita sebagai manusia terbiasa berfikir dan rasanya berfikir itu sepintas lalu terasa mudah. Setiap hari manusia tidak terlepas dari kegiatan berfikir. Bahkan setiap waktu, kita sebagai manusia berdialog dengan diri kita sendiri, dengan orang lain, baik itu dalam kegiatan berbicara, menulis, membaca, menyimak, dan lain sebagainya. Kita selalu menarik kesimpulan dari apa yang kita lihat dan yang kita dengar. Dan seringkali tanpa disadari ketika kita berfikir, kita menggunakan ungkapan seperti “kalau begini maka begitu”, “dengan demikian”, dan sebagainya yang kesemuanya itu merupakan bentuk kegiatan berfikir. Singkat kata, berfikir nampak begitu mudah bagi kita sebagai manusia. Benarkah kegiatan berfikir merupakan kegiatan yang mudah kita lakukan? Apabila kita renungkan secara mendasar, tentu berfikir tidak semudah yang kita duga. Berfikir merupakan kegiatan yang cukup sulit dan pelik, manakala kita lakukan dengan benar, hal ini akan nampak apabila kita coba teliti dengan seksama dan sistematis dengan berbagai pemikiran atau penalaran yang kita dengar, kita baca, dan kita ungkapkan. Banyak penalaran atau pikiran yang tidak “nyambung” apabila kita dengar dan kita ucapkan. Mengapa terjadi seperti itu?. Menyadari akan adanya berbagai kesulitan dalam berfikir,kita didorong untuk memikirkan cara kita untuk berfikir, serta meneliti asas-asa atau hukum-hukum yang mampu mengatur arah pemikiran kita ke arah yang benar. Di indonesia, perkembangan logika tidak disambut baik oleh bangsa indonesia karena merasa tak sesuai dengan budaya mereka. Namun dengan perkembangan zaman, ilmu logika mulai berkembang dan kita dapat melihat kebutuhan akan pendalaman serta penguasaan logika sebagai salah satu tuntutan yang asasi untuk mencerdaskan bangsa dan memanusiakan manusia yang menjadi tujuan seluruh kegiatan pembangunan di Indonesia. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sejarah logika tumbuh menjadi sebuah ilmu? 2. Apa pengertian logika dan manfaatnya? 3. Apa hubungan logika dengan filsafat? 4. Bagaimana peran logika di indonesia? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui sejarah logika yang tumbuh dan berkambang menjadi sebuah ilmu 2. Mengetahui arti serta manfaat dari logika 3. Mengetahui hubungan logika dan filsafat 4. Mengetahui peran logika yang mempengaruhi kemajuan bangsa indonesia BAB II PEMBAHASAN A. Logika 1. Pengertian Logika secara etimologis berasal dari bahasa yunani “logike” yang berhubungan dengan kata “logos” yang berarti ucapan, atau pikiran yang diucapkan secara lengkap. Dan kata Menurut Gie dkk (1980) bahwa logika adalah sebuah bidang pengetahuan yang merupakan bagian dari filsafat yang mempelajari segenap asas, aturan, dan tata cara mengenai penalaran yang benar. Logika merupakan cabang filsafat yang bersifat praktis yang berpangkal pada penalaran, dan sekaligus juga sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Sebagai ilmu, logika disebut logike episteme atau dalam bahasa latin disebut logica scientia yang berarti ilmu logika, namun sekarang lazim disebut dengan logika saja. Secara terminologis logika di definisikan sebuah teori tentang penyimpulan yang sah. Penyimpulan pada dasarnya bertitik tolak dari suatu pangkal-pikir tertentu, yang kemudian ditarik suatu kesimpulan. Penyimpulan yang sah, artinya sesuai dengan pertimbangan akal dan runtut sehingga dapat dilacak kembali yang sekaligus juga benar, yang berarti dituntut kebenaran bentuk sesuai dengan isi. 2. Sejarah perkembangan logika Logika pertama kali disusun oleh Aristoteles (384-322 SM), yang merupakan sebuah ilmu tentang hukum-hukum berfikir guna memelihara jalan pikiran dari setiap kekeliruan. Dan logika sebagai ilmu baru pada waktu itu, disebut dengan “analitika” dan “dialektika”. serta kumpulan karya tulis aristoteles mengenai logika tersebut diberi nama Organon, yang terdiri atas enam bagian. Tokoh logika pada zaman Islam adalah al-Farabi (873-950 M) yang terkenal mahir dalam bahasa Grik tua, menyalin karya tulis aristoteles dalam berbagai bidang ilmu dan karya tulis ahli-ahli pikir Grik lainnya. Al-Farabi menyalin dan memberi komentar atas tujuh bagian logika dan menambahkan satu bagian baru sehingga menjadi delapan bagian. 2. Bahasa dalam Logika Mengingat logika erat kaitannya denga kegiatan berfikir, dan berfikir erat kaitannya dengan bahasa, maka hubungan antara bahasa dan berfikir logis nampak bagaikan dua sisi mata uang. Bahasa adalah laksana alat berfikir yang kalau sungguh-sungguh kita kuasai dan kita gunakan dengan tepat, dapat membantu kita memperoleh kecakapan berfikir, berlogika dengan cepat. Fungsi pokok dari sebuah bahasa itu sendiri menurut Ihromi (1987) adalah : 1. Fungsi ekspresif Adalah Fungsi bahasa untuk mengekspresikan perasaan atau sikap 2. Fungsi Direktif Adalah Fungsi bahasa yang digunakan untuk memunculkan atau menghalangi tindakan nyata. 3. Fungsi Informatif Adalah fungsi yang digunakan untuk mengutarakan hal-hal yang faktual sifatnya. 3. Jenis Logika Secara historis terdapat 2 macam logika yaitu a) Logika Naturalis Sejak manusia melakukan kegiatan berfikir, ketika itulah ia telah mempraktikkan aturan-aturan berfikir, meskipun sama sekali tidak disadarinya. Jadi sejak manusia ada, sejak itulah manusia telah berlogika.Namun berlogika ini hanya merupakan bawaan kodrat manusia semata. b) Logika Artifisial Logika Artifisia dilihat dari segi bentuk dan isi dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu logika material dan logika formal. Logika material adalah logika yang membicarakan materi-materi atau realitas yang berhubungan dengan pikiran. Sedangkan logika formal adalah logika yang mempelajari bentuk berfikir. B. Logika di Indonesia Di Indonesia pada mulanya, logika tidak pernah menjadi mata pelajaran pada perguruan-perguruan umum. Pelajaran logika hanya bisa dijumpai di pesantren-pesantren dan perguruan-perguruan Islam dengan mempergunakan buku-buku berbahasa Arab. Sebagian kaum intelektual sangat menyadari kebutuhan mendesak akan meratanya kesanggupan berfikir tertib dan kritis seperti yang diajarkan dalam logika sebagai salah satu syarat mutlak terwujudnya Indonesia modern. Namun, karena logika tidak berasal dari Indonesia, maka banyak kalangan yang menolak ilmu logika. Logika pun dipandang tidak sesuai dengan adat ketimuran Indonesia. Analisis kritis dianggap tidak sesuai apabila diterapkan pada adat yang halus khas orang timur. Bahkan logika dilarang untuk diajarkan pada sekolah atau pesantren. Namun pada masa sekarang ini logika di Indonesia sudah mulai berkembang sesuai perkembangan logika pada umumnya yang mendasarkan pada perkembangan teori himpunan. Adanya logika di Indonesia dimulai dengan ‘memusuhi’ logika. Karena kebanyakan orang Indonesia menolak logika, yang menurut mereka bertentangan dengan budaya dan dapat merusak budaya timur mereka yang dikenal memiliki perasaan halus khas orang timur. Sebelum masuknya agama-agama dari negeri seberang ke Indonesia, bisa dikatakan tanah air ini hanya memiliki dua kepercayaan, yaitu animisme dan dinamisme. Sehingga hal-hal yang bersifat mistik dan irasional begitu melekat dengan Indonesia. Hal ini masih terasa hingga sekarang, masih banyak orang-orang yang suka main ‘babi ngepet’ daripada bekerja keras untuk menjadi kaya. Itu adalah salah satu dari ribuan contoh betapa tidak logisnya orang Indonesia. Dan Mereka tidak menyadari bahwa budaya adalah ciptaan manusia juga, ada yang baik dan ada yang buruk. Tentu saja kita sebagai manusia (yang katanya) berakal sehat, harus mampu memilah-milah apa yang diajarkan budaya. Namun dengan berjalannya waktu, perkembangan logika di Indonesia sudah membaik walaupun hanya yang bersifat formal. Orang-orang mulai menjalani hidupnya dengan berpegang pada dua hal, yaitu agama dan logika. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Logika merupakan cabang filsafat yang bersifat praktis berpangkal pada penalaran, dan sekaligus juga sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Dengan fungsi sebagai dasar filsafat dan sarana ilmu karena logika merupakan “jembatan penghubung” antara filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika didefinisikan: Teori tentang penyimpulan yang sah. Bahasa dalam logika merupakan alat berfikir yang kalau sungguh-sungguh kita kuasai dan kita gunakan dengan tepat, dapat membantu kita memperoleh kecakapan berfikir, berlogika dengan tepat. Di Indonesia, Logika pada awalnya tidak diterima, bahkan mendapat penolakan karena diaggap tidak sesuai dengan budaya dan dapat merusak budaya yang ada di Indonesia. Namun, dengan perkembangan zaman, Logika dapat diterima dan dikembangkan hingga sekarang dan menjadi sebuah ilmu untuk memajukan bangsa indonesia di era modern ini. DAFTAR PUSTAKA Karomani, 2009. Logika. Yogyakarta : Graha Ilmu http://duniadandia.blogspot.com/2011/03/dasar-dasar-logika-sejarah-di-indonesia/ 02/10/2012 13.30 http://edywitanto.wordpress.com/logika/ 02/10/2012 14:30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar